Jumat, 12 November 2010

Pejuang Tangguh

Jum’at 28 Nopember 2008

08.00 wib, CIharendong –rumah kang Erik “Kabul

Kembali kami pak ulang peralatan dan perlengkapan mendaki kami karena tadi pagi, walau pun semalam sudah penuh sesak ransel kami dengan alat dan bahan kebutuhan kami, sang koordinator kelompok datang dengan membawa perlengkapan kelompok yang diberikan oleh panitia; sebuah jerigen cadangan, karung sampah dan tambang untuk membatu kegiatan penyapuan gunung.

09.30 wib, Arena Pacu –jalan baru Cijoho – Gunung Keling

Datang terlambat ke arena upacara kendaraan pengangkut hampir saja meninggalkan regu kami untuk menuju pos pemberangkatan. Tak terbayang bila kami harus mulai hiking dari lapangan tersebut menyambung ke jalur pendakian.

Arena upacara ini berbeda dengan arena awal yang tercantum dalam undangan yang kami dapat sebelumnya. Entah mengapa panitia harus merubah tempat upacara, “ikut merayakan hari Menanam Nasional” katanya, yang dicanangkan oleh Bapak Presiden.

13.30 wib, Pos Ujung Aspal, Linggajati –titik awal kegiatan

Selesai Ibadah Shalat Jum’at di kampung terdekat, terus kami bersiap untuk mulai pendakian. Berusaha menyesuaikan dengan rencana, kami akan mencapai pos kami (pos 5) sebelum gelap agar tidak terlalu sulit mendirikan sarana istirahat kami; 1 set tenda kubah dan terpal tipis.

Hanya saja, kami masih belum dapat melihat dimana sang kordinator berada, “Masih mengurusi kebutuhan kelompok kami, mungkin”. Yakin beliau tak akan mengecewakan dengan tetap menyusul kami, kami berangkat terlebih dahulu.

15.30 wib, pos Kuburan Kuda –pos 3 Jalur pendakian Linggajati

Belum juga tiba di pos 5 sudah mulai merasa stamina kami terkuras. Menimbang kondisi dan waktu yang kami punya, putusan bersama untuk mendirikan tenda disini. Mulai kami membagi tugas; mendirikan tenda, menyiapkan perapian dan mulai memasak.

17.30 wib, pos Kuburan Kuda –pos 3 Jalur pendakian Linggajati

Akhirnya, tepat ketika sudah tenda berdiri, kayu bakar terkumpul dan air hangat sudah tersedia, sang koordinator beserta 2 orang temannya tiba di tempat peristirahatan kami. Berusaha untuk memukaunya, kami perlihatkan kesiapan pos kami. Alih-alih memberi pujian, beliau malah meminta kami untuk membongkar tenda dan bersiap melanjutkan perjalanan ke pos tujuan awal kami (pos 5).

Entah apa pertimbangannya, tetapi dia memaksa kami membongkar tenda walau hari mulai gelap. Eurgh… sebal kami padanya.

Selesai bongkar tenda, dengan hanya sempat minum susu hangat dan mengganjal perut dengan timbel yang dibawa masak dari rumah, kami melanjutkan pendakian.

21.30 wib, pos Bapak Tere –pos 5 Jalur pendakian Linggajati

Tiba pun akhirnya di pos kami, dengan kondisi kedinginan, gelap dan sebal pada sang koordinator. Walau pun demikian, tetap kami menghormatinya sebagai koordinator, sebagai pemimpin, sebagai senior. Sudah tiba sebelum kami disana, tim dari kelompok pos lain, pos diatas kami mereka seharusnya berada. Hanya saja karena keterbatasan kondisi dan waktu, mereka memutuskan untuk istirahat disini.

22.30 wib, pos Bapak Tere –pos 5 Jalur pendakian Linggajati

Selesai semua persiapan pos kami, tiba lah waktunya makan malam bersama. Menu memang masih sama, indomi-telur-kornet-keju, tapi yang membuat berbeda, kami menikmatinya bersama. Selesai makan sembari menikmati coklat hangat kami mulai diskusi, bermusyawarah untuk kegiatan esok hari; jemput kelompok lain dari anggota pos kami, penyiapan pos sebagai pusat kegiatan, mulai penyisiran Gerakann Sapu Gunung.

Sabtu, 29 Nopember 2008

05.00 wib, pos Bapak Tere, pos Batu Lingga, pos Sangga Buana, pos Pangasinan –pos 5, 6, 7 Jalur pendakian Linggajati

Sudah mulai kegiatan ketika ku bangun, anggota tim lain sudah ada yang mengelola kompor (memasak), mengurusi perapian, dan lain beribadah. Sepertihalnya waktu waktu lalu, tak pernah sempat kami untuk berbersih diri bila mendaki karena keterbatasan air, maka hanya ada jatah satu tetes air untuk kami kucek mata kami agar tidak kembali ngantuk. Begitu makanan siap dari komandan dapur langsung kami nikmati sarapan, dan kembali “bersama”. Kali ini hanya roti yang dipanggang kering dan kopi susu yang agak kental, “jangan terlalu berat kalau untuk sarapan” ujar sang koki.

Mulai kegiatan dengan Doa bersama, kami mulai terpisah untuk melakukan kegiatan masing-masing. Kebetulan, ku dapat bagian tim yang mulai penyisiran, terperangkap bersama sang koordinator yang ingin ikut menuju pos diatas untuk berkoordinasi.

Satu pos terlewati, tiba dalam setengah jam. Karena masih banyak waktu kami memutuskan untuk ikut bersama koordinator ke pos berikutnya. Dua pos terlewati, dengan stamina yang mulai tersa menurun. Tiba di pos ke tiga (pos 7) lega rasanya, berharap untuk mendapat asupan tenaga dari pos tersebut, yang kebetulan koordinatornya juga adalah senior. Lumayan, dapat secangkir kopi hangat, biskuit sarat energi dan pemandangan puncak gunung yang tanpa bandingan. Bercengkrama kami dengan koordinator pos yang belum datang anggota-angotanya. Ternyata, kami tim pertama yang tiba disana, heu… heu… heu…

Belum puas kami menghabiskan hasrat nikmati pemandangan, sang koordinator kembali mengganggu kami dengan keputusannya untuk kembali ke pos dan mulai penyisiran, kegiatan utama kami hari ini. Padahal kami masih punya semangat bahkan untuk menuju puncak yang hanya tioinggal setengah jam perjalanan ke atas. Turun lah kami setelah mengambil dokumentasi, imagi dari kami bertiga bersama Sang Koordinator.

Turun kami dengan berat hati akhirnya, dan hanya mulai penyisiran dari ps tanggungan kami. Secepatnya kami memenuhi karung-karung kami dengan sampah yang terlihat didepan mata, juga sampah-sampah yang terhalang timbunan tanah serta semak belukar sepanjang jalur pendakian. Pertengahan jalur, rekan tim satu pos kami juga sudah tiba dan mulai menyisir. Penuh karung kami begitu tiba di pos, kami simpan untuk nanti di pilah-pilah.

Istirahat siang itu diisi dengan makan siang yang penuh dan nikmat; nasi liwet dengan sirih, ikan asin goring garing, oreg tempe hangat baru goring, peuteuy plus coel-nya sambal pedas –Siiip, komplit….!!! kembali, terimakasih untuk koki kami. Tetap kami makan “bersama” –di baca bersama, dalam arti harafiah; satu wadah, satu waktu, tak ada junior, tak ada senior, took bersama. Hampir lupa, dan cuci mulut pun dihidangkan; sepiring buah mangga harum manis, langka kami dapatkannya di pendakian kami sebelum-sebelumnya.

Menjelang sore, masih siang, karena tidak ada kegiatan berarti, kami mulai mensortir sampah berdasar jenisnya: sampah palstik, sampah kaleng, sampah kaca, dan sampah kain. Tak habis pikir kami, banyak sekali orang mendaki dan meninggalkan begitu banyak sampah. Bermacam macam pula tindakan mereka, menggantung pakaian bekas bertuliskan nama mereka, membuang air seni di botol (air seni… joroknya mereka), sampai menyikasa pohon dengan menempelkan papan kaleng bertahtakan identitas. Apakah mereka berusaha meng-eksiskan diri mereka di alam dengan hal-hal tadi, seolah-olah ingin mengatakan “I was here before” -kami pernah disini sebelum anda, ingin ku bilang pada mereka “So, what a big deal…!” –apa hebatnya.

16.00 wib, pos Bapak Tere, pos Sareni, pos Kuburan Kuda, pos Kondang Amis, pos Cibunar –pos 5, 4, 3. 2, 1 Jalur pendakian Linggajati

Masih terang dan baru kami ketahui, anggota tim satu pos kami kekurangan air untuk minum dan memasak. Kembali gelagat tidak menyenangkan tercium dari sang Koordinator; segera dia meminta kami untuk turun pos dan megambil air. Tidak tanggung-tanggung, beliau minta kami turun 5 pos ke pos 1 untuk mengambil 3 jerigen air.

Eurgh… andai saja dia bukan senior kami, andai saja kami tidak satu organisasi dengan orang ini, andai saja kami tidak memangku nama besar organisasi.

Perlu perjuangan berat, mental yang kuat dan hati yang besar, untuk turun dan menyediakan kebutuhan bersama tim di pos ini agar dapat melanjutkan kegiatan.

Setelah iming-iming menggiurkan, persiapan mendalam dan perbekalan mencukupi, tiga orang dari team kami memulai perjalan berat menuju mata air terdekat. Tidak terlalu lama, sebelum hari gelap kami sudah tiba di pos terbawah dari jalur pendakian, hanya di pos 1 ini kami bisa mendapatkan persediaan air. Begitu akan memulai perjalanan berat ke atas, bertemu kami dengan senior lain –lebih sanior dari sang Koordinator, yang pastinya lebih kami hormati, memminta kami untuk mendampingi rekan-rekanya yang nota-bene masyarakat senior (dibaca: bapak-bapak), paling tidak sampai pos 3.

Dapat dibayang kan mungkin; (3 jerigen air) X (5 literan)+( 3 orang warga senoir) = 4 jam perjalanan naik jalur pendakian Lingajati, perjalanan yang cukup panjang. Bahkan ada beberapa sebutan pun dating untuk kami; pejuang tangguh, tim tanker, penerus-penerus Haikel (Haikel-Haikel lain).

22.30 wib, pos Bapak Tere –pos 5 Jalur pendakian Linggajati

Tiba di luar perkiraan awal, pos 5 bagai “oase di padang pasir” bagi kami. Begitu tiba, dengan semua anggota tim masih terjaga, telah siap disana secangkir teh hangat, sepiring biscuit dan satu set makanan berat untuk makan malam: nasi lengkap dengan sarden berkuah. Ouh… senagnya kami disambut.

Langsung istirahan dengan imingan tadi siang: sleeping bag dan pakaian hangat untuk malam ini. Tapi kenapa hanya “thanks, brow”yang kami terima dari sang Koordinator, itu pun ketika dia beranjak tidur begitu kami tiba.

Minggu, 30 Nopember 2008

05.30 wib, pos Bapak Tere –pos 5 Jalur pendakian Linggajati

Hari terakhir di kegiatan GSG tahun ini, tapi semuanya masih terlihat bersemangat. Bangun pagi ini semua sudah dalam aktivitasnya masing masing, komandan dapur sudah menempati tempatnya, perpian tetap terjaga dan, sang Koordinator masih yang pertama dalam ibadahnya. Dengan persediaan air yang melimpah, paling tidak pagi ini kami dapat cuci muka dan sikat gigi. Agak terlambat makan kami hari ini karena menu masakan yang sedikit lebih spesial dari sang koki: sebagai makanan pembuka ada kukus kacang merah tabur keju, dilanjut dengan makanan utama nasi liwet komplit dengan krupuk becak nya, ditutup dengan agar-agar coklat. Nampak penuh sarapan kami pagi ini padahal karena lama menunggu tadi sempat kami ganjal perut dengan roti dan coklat hangat. Hampir-hampir kami tidur kembali karena kekenyangan.

Selesai makan dan pak peralatan kedalam ransel masing-masing, bersama dengan anggota tim lain satu kelompok di pos 5, kami melakukan foto-foto, disusul dengan basa-basi terakhir serta doa bersama.

08.00 wib, pos Bapak Tere, pos Sareni, pos Kuburan Kuda, pos Kondang Amis, pos Cibunar –pos 5, 4, 3. 2, 1 Jalur pendakian Linggajati

Turun berbarengan dengan turunya anggota dari pos lain dari pos masing-masing dengan membawa “hasil” penyisiran, 24 karung sampah –katanya sih rekor dibanding pos-pos lain, pos 5 membawa paling banyak sampah. Sempat terpisah dengan anggota tim karena kondisi fisik dan barang bawaan, kami baru bertemu kembali di pos 1. Setelah bebrapa anggota tim tiba terlebih dahulu serta menunggu anggota di belakangnya.

Setelah sebagian selesai bersih diri dan semua berkumpul , menuju lah kami ke titik ahir.

13.30 wib, Pos Ujung Aspal, Linggajati –titik awal kegiatan

Tiba di titik awal, kami serahterima-kan dengan panitia; laporan kegiatan, alat komunikasi, serta karung-karung sampah kami. Balik, dari panitia untuk kami: Nasi lengko dalam bungkus, air mineral dalam kemasan, Sertifikat lengkap dengan stiker kegiatan. Nampak sarapan terakhir dan dokumentasi pribadi kami lebih menggiurkan…

Entah memang mungkin sudah dikehendaki oleh yang maha kuasa; sepanjang kami membersihkan gunung tidak mendapat kan sedikit pun kendala dari guyuran air hujan, tetapi sepanjang pulang dalam kendaraan bak terbuka, serasa mengisyaratakan kami untuk turut “membersihkan” diri, guyuran air hujan menyertai… Alhamdulillah.


Glossary:
Sang Koordinator: Septian “kopeng” Aditya
Komandan Dapur: Erik “kabul” Sugiarto
Komunikator: Didi “Pulisi”
Koki: Angger Saloka
Perapian: Adore, Azhar
Team Tangker: Egi, Wildan Eka
Tim Satu Pos: Smayamtala


diambil dari SMANDARIKAL

http://smandarikal.wordpress.com/2008/12/02/pejuang-tangguh/

Selasa, 09 November 2010

Indonesia ku..
kau begitu kaya..
begitu banyak nikmat yang disediakan..
sampai tongkatpun bisa tumbuh menjadi tumbuhan..

kau kaya..
kaya akan sumber daya alam..
baik yang ada di permukaan..
maupun yang ada di bawah permukaan..

kau juga kaya akan kejadian-kejadian alam..
selain ring of fire,
beberapa wilayahmu termasuk kedalam zona subduksi..




sangat menyakitkan jika kita mencintai seseorang, tetapi tidak dicintai olehnya.Tetapi lebih indah untuk mencintai dan tidak pernah menemukan keberanian untuk memberitahu mereka apa yang kita rasakan.

Ketika pintu kebahagiaan tertutup, da yang lain terbuka.Tetapi kadang-kadang kita itu terlalu lama menatap pintu yang tertutup, sehingga tidak melihat pintu yang sudah terbuka untuk kita.

Jangan pernah berkata selamat tinggal jika kita masih ingin mencoba. Jangan menyerah selama kita merasa masih dapat maju. Jangan pernah kita berkata sudah tidak mencintai orang itu lagi, bila kita tidak bisa membiarkannya pergi.Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya. Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan.


Hanya perlu satu menit untuk menghancurkan seseorang, satu jam untuk menyukai seseorang, satu hari untuk mencintai seseorang.

jangan melihat dari wajah, itu bisa menipu. Jangan melihat kekayaan, itu bisa menghilang. Datanglah kepada seseorang yang bisa membuatmu tersenyum karena sebuah senyuman dapat membuat hari yang gelap menjadi cerah.

Ketika kita lahir, kita menangis dan semua orang di sekeliling kita tersenyum. Hiduplah dengan hidup kita, jadi ketika kita meninggal, kita satu-satunya yang tersenyum dan semua orang di sekeliling kita menangis.



Senin, 08 November 2010

perjalanan 4 petualang

1. Kumpul


Jam 16.00, 24 November 2008

tepatnya hari senin jam 16.00, mereka ber- empat janjian kumpul di depan camp, empat orang tersebut adalah ronjat, ocer, rajam dan otong. Usia mereka tidak berjauh beda karena mereka berempat masih sekolah di bangku SMA. Yang pertama datang adalah ronjat, dan ocer. Setelah mereka berdua datang, mereka berdua pun membeli bahan makanan terlebih dahulu untuk makan mereka didalam hutan, setelah membeli bahan makanan dan juga yang lainnya, mereka langsung kembali ke camp.

Ketika sampai di camp ronjat dan ocer melihat rajam dan otong telah datang di camp. ” tong, jam sebelum berangkat kita cek dan packing dulu, supaya tidak ada yang tertinggal !” kata ocer. ” Ok, sebelum kita berangkat kita cek dan packing dulu” jawa bronjat. alat yang mereka bawa terdiri dari: alat kemah terdiri dari tenda, patok, dan matras. Alat masak terdiri dari kompor gas portable, misting tentara, dan gas. Alat makan terdiri dari gelas, piring, dan sendok.. Alat tidur terdiri dari jaket, upluk, sarung tangan, dan kaus kaki.

Bahan makanan yang terdiri dari beras, mie, sarden , air dan kopi. Dan yang lainnya kita membawa senter, batu baterai, tembakau, alat P3K, lilin, korek api gas dan kayu, pisau komando, golok, nangka, ransel, kompan( jeligen), kompas.

Setelah cek barang mereka langsung packing barang-barang tersebut kedalam ransel.

Prinsip dasar yang mutlak dalam mempacking adalah :

Pada saat backpack dipakai beban terberat harus jatuh ke pundak, Mengapa beban harus jatuh kepundak, ini disebabkan dalam melakukan pendakianatau perjalanan kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, bayangkan jika salah mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki tidak dapat bebas bergerak, dan anda menjadi cepat lelah karena beban • Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan keseimbangan seperti : meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya.
Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :
• Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya
. Misal : alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik.
Maksimalkan tempat yang ada, misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat dimasukkan ke dalam ransel, isikan bahan makanan kedalamnya, misal : beras dan telur.
Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai pada saat diperlukan, misalnya: rain coat / jas hujan pada kantong samping Keril/Ransel.
• Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar ransel, karena menggantungkan barang diluar ransel akan mengganggu perjalanan anda karena tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking ke dalam ransel.
Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh anda, sebenarnya adalah suatu angka yang relatif, patokan umum idealnya adalah 1/3 dari berat badan anda , tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap individu, yang terbaik adalah dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda dapat menyiasati pemilihan barang yang akan dibawa dengan selalu memilih barang/alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan hanya membawa barang yang benar-benar perlu.

( untuk perlatan bagi yang mau melakukan perjalanan mendaki bagi bahan makanan. yang terbaik adalah bahan makanan yang mengandung kalori tinggi. Dan bawa peralatan yang mempunyai manfaat,berfungsi).



Setelah melakukan cek dan packing sekitar jam 17.00 mereka berempat berangkat menuju daerah palutungan. Mereka berangkat menggunakan motor. mereka mengambil jalur cipari lewat windu sengkahan, ketika ditanjakan windu sengkahan motor ronjat tidak kuat untuk melewati tanjakan tersebut sehingga ocer disuruh turun dulu oleh ronjat” cer tolong turun dulu, motornya gak kuat.” kata ronjat kepada ocer. Ocer pun turun dari motor dan dia mendorong motor ronjat sampai melewati tanjakan tesebut.

Akhirnya mereka bisa melewati tanjakan tersebut dan ocer pun kembali naik ke motor. ” jat kenapa nih kok gak kuat”

Kata ocer.

gak tau nih, dah tua motornya, he......” gurau ronjat pada ocer. akhirnya mereka bisa mengejar rajam dan otong yang berhenti di cipari. Dan mereka pun berhenti di tempat rajam dan otong berhenti.

kenapa jam?” tanya ronjat kepada Rajam. ” gak, otong lagi kerumah temannya.” jawab Rajam. ”mau ngapain?” tanya ocer. ” lagi minjam cover bag” jawab Rajam. Otong pun datang sambil membawa cover bag. ” ayo kita alanjutkan ke cisantana dulu , kita titipkan motornya disana.”

mereka melanjutkan perjalanan menuju cisantana, untuk menitipkan motor di rumah temannya otong, setelah sampai di cisantana mereka menuju rumah temannya otong, setelah sampai disana temannya otong kebetulan belum datang, yang ada di rumahnya hanya ayahnya saja,

pak maaf kita mau ikut nitip motor” kata otong. ” oh silahkan” kata bapak-bapak tersebut. Mereka pun langsung menyimpan motor mereka di dalam rumah temannya otong.



2. Perjalanan Malam Hari


Sekitar Jam 17.1 0, 24 November 2008

Setelah mereka menitipkan motor, mereka berangkat menuju jalur pendakian gunung Ciremai, mereka berangkat kesana menggunakan mobil angkot kuning. ”Gimana nih mau ngecamp dimana natar malem?” tanya roonjat kepada mereka.

kita camp di cigowong aja” jawab Rajam. ”Iyah kita camp di Cigowong aja” kata Ocer. Akhirnya mereka sampai di jalur pendakian gunung Ciremai, disana sebelum berangkat mereka membeli empat bungkus kopi terlebih dahulu disebuah warung sederhana.

Setelah membeli kopi Sekitar jam 17.30 mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat camp mereka.

mereka berangkat lewat jalur pendakian, pertama mereka melewati hill green, ketika di hill green mereka mulai menggunakan senter yang mereka bawa karena ketika di Hill green sudah gelap sekitar jam 18.00 mereka pun sebelum melanjutkan perjalanan mereka makan dua buah roti dan satu buah jeruk, ” lumayanlah buat ganjel perut untuk perjalanan menuju Cigowong”


Dalam perjalanan malam hari menuju Cigowong, kali ini Otong sebagai leader ”dimana leader berfungsi untuk memimpin suatu perjalanan jadi leader tempatnya berada paling depan”. dan Ocer sebagai sweaper ” sweaper adalah orang yang bertugas sebagai penyapu, ditakutkan ada yang tertinggal jadi sweaper berada paling belakang” sedangkan Ronjat dan Rajam di tengah, mereka memulai perjalanan dengan senter sebagai alat penerangan mereka dalam perjalanan ini.

Ketika di Hill Green, mereka harus berjalan melewati hutan pinus dimana disana semua jalur tampak sama sehingga apabila kita tidak tahu jalur mana yang lebih cepat, kita bisa mengambil jalur cros, jalur yang lebih jauh menuju Cigowong.

Setelah melewati hutan pinus mereka sampai di ladang, ketika diladang sandal yang dipakai oleh Ronjat talinya putus sehingga mereka behenti sebentar, Untuk memakai sepatu yang di bawa oleh ronjat. Setelah memakai sepatu, mereka melanjutkan perjalanan menuju Cigowong, indahnya perjalanan malam hari ini, dalam perjalanan malam ini mereka ditemani oleh cahaya bintang-bintang yang indah.

Setelah melewati ladang mereka masuk kedalam hutan kembali, sekitar 15 menit perjalanan dalam perjalanan, mereka terganggu oleh sebuah pohon yang tumbang, sehingga untuk melewati pohon tersebut diantara mereka ada yang merayap. Sekitar dua jam setengah mereka berjalan mengikuti jalur pendakian akhirnya mereka sampai juga di Cigowong. Kurang lebih mereka sampai di Ciowong pukul 21.00. mereka mengucapkan syukur ”Alhamdulilah akhirnya sampai juga di Cigowong”


tiada kata yang indah untuk diucapkan ketika kita mendapatkan suatu kenikmatan yaitu mengucapkan syukur kepada yang maha pencipta”

3. Camp Cigowong


Sekitar Jam 21.00, Cigowong, 24 November 2008

Setelah berada di Cigowong, ternyata yang camp hanya mereka berempat saja, mereka langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda mereka, mereka pun bagi-bagi tugas dalam kegiatan pendirian tenda dan membereskan barang-barang, dan mereka langsung bergerak dengan Otong dan Rajam bertugas mendirikan tenda sedangkan Ronjat dan Ocer bertugas membereskan barang-barang yang mereka bawa dalam perjalanan ini.

Setelah tenda berdiri barang-barang yang telah dikelompokan oleh mereka yang kemudian mereka memasukannya kedalam tenda, terutama nangka yang mereka biarkan tetap didalam ransel karena makanan tersebut dapat menarik perhatian dan dapat mengundang hewan yang ada disekitar tempat camp, terutama nangka karena baunya yang menyengat jadi apabila disimpan diluar dapat mengundang hewan disektar tempat camp kami.

Setelah tenda berdiri dan barang-barang sudah dimasukan kedalam tenda, mereka langsung bergegas membuat api dan masak makanan untuk makan malam. Yang bertugas memasak yaitu Otong sedangkan Ronjat, Rajam, dan Ocer mencari kayu bakar untuk membuat api, setelah kayu bakar terkumpul mereka langsung membuat api dan Otong langsung masak dengan menu makan malam yaitu nasi, mie, sarden, dan minumnya yaitu kopi hangat. Setelah masakan matang mereka langsung makan walaupun sederhana makan terasa nikmat dan enak karena mereka makan bersama-sama, seperti saudara saja. Setelah makan selesai dua bungkus kopi di seduh dan mereka minum kopi hangat malam ini ” ehm udah makan ngopi, nikmat”

Setelah makan dan ngopi mereka berempat mematikan api yang menyala karena dikhawatirkan kalau tidak dimatikan bara apinya terbawa oleh angin sehingga dapat menyebabkan kebakaran, setelah api dipadamkan mereka langsung memakai stelan tidur mereka yang terdiri dari sarung tangan, upluk, dan juga jaket.

Setelah memakai stelan tidur mereka, mereka langsung bergegas tidur, karena besok akan menghadapi perjalanan yang lebih jauh lagi sehingga mereka membutuhkan tubuh yang fit. Dan sekitar jam 22.30 mereka pun tertidur. Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzz


Jam 04.00, Cigowong, 25 November 2008

Sekitar jam 04.00 mereka pun terbangun yang pertama bangun adalah Ronjat karena saya kaget mendengar suara alarmnya, yaitu ayat kursi, sehingga dia terbangun dan disusul oleh ke tiga teman nya. Setelah mereka terbangun mereka langsung membuat kopi hangat, untuk mengatasi kedinginan. karena disana suhunya dingin.

Sambil ngopi mereka pun mengeluarkan permainan mereka yaitu permainan kartu remi, mereka pun bermain kartu remi sampai pagi sampai pukul 06.30, dalam permainan ini yang pertama kalah yaitu Ocer dan kedua adalah Ronjat. sedangkan yang terakhir adalah Otong. Sistim permainan ini adalah mengumpulkan point, siapa yang pointnya paling kecil dialah yang kalah. Point maksimalnya adalah tergantung kesepakatan dari pemain.

Udahanlah kita beres-beres tenda dan setelah makan, kita berangkat menuju Ciinjuk” kata Otong. mereka pun beres-beres tenda dan melakukan cek dan packing lagi sebelum mereka berangkat menuju Ciinjuk. Setelah beres mereka masak makanan untuk makan pagi mereka. Menunya yaitu sama seperti kemarin dengan tambahan nangka. Yaitu nasi, mie, sarden.

4. Perjalanan Ciinjuk


Setelah makan sekitar jam 07.00 mereka berangkat menuju Ciinjuk tempat istirahat mereka selanjutnya, dan yang bertugas sebagai leader adalah rajam, sweaper adalah Otong, sedangkan Ronjat ,dan Ocer berada di tengah. Dan dengan perjalanan sekitar dua jam, dikarenakan perjalanan cukup jauh, jadi mereka harus mempunyai persiapan seperti mereka harus membawa air yang banyak. Setelah mereka bersiap-siap sebelum berangakat mereka foto-foto dulu. “ hei, foto-foto dulu yu” kata ronjat kepada mereka “ benar, kita foto-foto dulu, untuk dokumentasi perjalanan kita” jawab Ocer. Setelah asik berfoto mereka langsung melanjutkan perjalanan mereka menuju Ciinjuk pos peristirahatan mereka selanjutnya.

mereka berangkat menuju Ciinjuk, mereka berjalan sambil menikmati indahnya ciptaan sang maha kuasa, mereka berjalan ditemani kicauan burung yang terasa indah terdengar ditelinga, ditemani sejuknya pepohonan besar yang tumbuh menjulang, dan ketika diperjalanan mereka pun melihat si oa yang sedang bergelantungan di pohon, dan tak terasa perjalanan sudah tiga perempat perjalanan, ketika mereka sampai di jalan yang dihadang oleh tumbuhan yang menutupi jalan, ya sehingga mereka harus menebas tumbuhan tersebut dengan golok dan pisau komando yang mereka bawa.

mereka pun menebasi tumbuhan tersebut, trak....trak... suaranya terdengar seperti itu. Setelah 15 menit mereka menebasi tumbuhan yang menghalangi jalan tersebut, akhirnya mereka keluar dari tumbuhan tersebut dan akhirnya mereka sampai di tempat peristirahatan mereka selanjutnya yaitu Ciinjuk.

Di Ciinjuk ketika sampai mereka makan biji nangka yang mereka rebus ketika di Cigowong. Dan keitka temannya Ronja tbernama Rajam kebetulan dia mau mengeluarkan limbah dari perutnya. He...... ( dia ingin buang hajat ). Dia pun buang hajat, sedangkan mereka edang istirahat. Ketika dia sudah selesai buang hajat, ronjat merasa geli di daerah kakinya, eh ternyata di kakinya ada seekor pacet yang sedang menggigit dan menghisap darahnya. Dan Ronjat pun langsung mengeluarkan tembakau yang ada di dalam ranselnya, kemudian tembakau itu dimasukan kedalam botol akua dan diberi air, setelah itu air tembakau tersebut ronjat ciprati ke pacet tersebut dan sambil di ambil, untung saja tadinya mereka persiapan terlebih dahulu, dan tidak lupa untuk membawa tembakau dalam bentuk rokok. Tapi lebih bagus dalam bentuk tembakau asli. Setelah istirahat sejenak mereka melanjutkan perjalanan menuju geger halang. Ketika sampai di saung, he.......... di hutan kok ada saung yah, tapi emang benar disana ada saung yang mungkin dibuat oleh warga sekitar. Dan disana juga ada \kuburan, ada yang bilang sih makam bah jambrong. Sekitar 15 menit perjalanan mereka sampai juga diladang, dan ladang tersebut masuk kedaerah majalengka, Subhanallah, pemandangannya sangat indah, kita melihat puncak ciremai dan juga kita melihat daerah majalengka, pemandangan yang betul-betul indah. Dan kita pun istirahat dan masak disana untuk makan siang. mereka di ladang sekitar jam 11.30. ketika sedang masak. ” weui air masih banyak enggak?” kata ocer. Otong menjawabnya dengan pertanyaan juga ” emang kenapa?”. ” aduh, perut nih pengen buang hajat, kayanyamah gara-gara makan nangka” he............. , ” iyah bener tuh, kayanyamah gara-gara nangka.” jawab Rajam. Ocer pun langsung nyari posisi yang uenak dia masuk kedalam semak-semak mungkin karena sudah diujung tanduk dia pun kebobolan sebelum membuka CD nya, iyak ih jorok, he.............. diapun membungkus CD tersebut dalam bungkusan plastik hitam, dan bungkusan tersebut di gantung pada pagar. Setelah Ocer selesai dengan urusan pentingnya, akhirnya mereka pun makan makanan mereka yang sudah dimasak, menunya yaitu. Super bubur, dan mie. Ketika enak-enak makan mereka teringat dengan kejadian Ocer, iyak jorok, ya tapi enak saja, soalnya lagi lapar sih. He.........


5. Pencarian Jalur GH To Palutungan


Sekitar jam 12.00, 25 November 2008

Setelah selesai makan dan minum mereka langsung bersiap-siap untuk berangkat, peralatan yang mereka bawa mereka cek dan packing ulang. Setelah selesai cek and packing mereka langsung berangkat menuju gunung geger halang. setelah berjalan beberapa meter dari tempat mereka istirahat mereka bertemu dengan penduduk sekitar, pertamanya mereka bertanya kepada bapak tersebut. ” pak kalau menuju palutungan ada jalur gak dari Geger Halang?” bapak tersebut menjawab” oh de, kesanamah gak da jalur, emang dari mana?”. kita dari kuningan pak. Oh ya udah pak makasih ya pak.

mereka pun langsung melanjutkan perjalanan menuju gunung tersebut. Ketika sampai dimuka gunung ternyata jalur untuk menuju puncaknya sudah tertutup oleh tanaman-tanaman liar pegunungan. Kata otong kalau mau ke palutungan mereka harus menuju puncaknya terlebih dahulu, agar mereka bisa melihat jalurnya lebih jelas yaitu jalur yang menuju ke palutungan. Karena ingin cepat-cepat menuju palutungan, mereka pun bergerak cepat. ” cepatlah kita berangakat, kalau gak cepat-cepat nanti kita bisa kemalaman di gunung geger halang” kata ronjat kepada mereka. mereka pun bergerak menuju puncak gunung geger halang tersebut sambil menebasi tanaman liar yang menghalangi jalan mereka. mereka terus menebasi tanama-tanaman tersebut dengan menggunakan sebuah golok yang dipakai ocer, pisau yang dipakai otong dan tongkat yang dipakai oleh ronjat dan rajam, setelah 15 menit mereka menebas mereka pun bergantian tugas dan sekarang rajam yang memakai pisau dan otong menggunakan golok. Ketika rajam menggunakan pisau, tidak sengaja pisau tersebut terbang dari tangannya rajam menuju ke sebuah jurang. Tapi Alahamdulillah pisau tersebut tertancap tidak jauh dari mereka, dan ronjat pun langsung turun menuju pisau tersebut. Sebelum ronjat turun, otong melempar ranselnya untuk membuka jalur menuju pisau tersebut. Setelah istirahat sejenak dan pisau telah diambil, mereka melanjutkan perjalanan mereka lagi, Alhamdulillah mereka sampai dipuncak gunung geger halang.

Ketika sudah sampai di puncak memang benar ada jalur tapi sudah tidak jelas. Ya mungkin karena jarang dilalui atau bahkan sudah tidak digunakan lagi oleh penduduk sekitar. Ya walaupun tidak jelas mereka pun langsung berangakat mengikuti jalur tersebut, karena jalur tersebut hanya satu-satunya jalur yang menuju ke palutungan. mereka pun terus berjalan mengikuti jalur tersebut dengan ditemani oleh kabut , beberapa kali mereka kesusahan mencari jalur menuju ke palutungan karena jalur tersebut ada yang sudah tertutup oleh tanaman hutan. Tapi unttungnya mereka tenang, mereka berfikir kalau jalur yang belum pernah dilewati tanamannya sangat lebat, tapi jalur yang pernah dilewati tanamannya tidak begitu lebat ya intinya masih kelihatan jalur. mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, ketika dalam seperempat perjalanan, perjalanan mereka tergangu oleh pohon yang tumbang, sehingga mereka di buat kerepotan, mereka pun harus menaiki pohon tersebut agar mereka bisa melihat dan memilih mana jalur yang menuju palutungan, setelah menaiki pohon tersebut mereka melanjutkan perjalanan mereka, mereka terus berjalan sambil menebasi tanaman yang menghalangi jalur kami. ” aw.......” ronjat teriak. Ternyata dia terkait oleh duri, ” kenapa? ” tanya mereka kepada ronjat. ” gak, hanya terkait oleh duri, untung saja aku pakai celana gunung, jadi hanya lecet sedikit”. ”Oke kita lanjutkan perjalanan ini, soalnya masih jauh menuju ke palutungan” kata otong.

mereka pun melanjutkan kembali perjalanan kami menuju ke palutungan, dan ketika mereka sampai di ujung jalur, tepatnya sekitar jam 15.00 mereka masih berada di hutan gunung geger halang, mereka pun terus berputar di skitar ujung jalur tersebut untuk mencari mana jalur yang dapat membawa mereka menuju palutungan. Mereka pun berhenti dan berfikir sejenak. ” gimana nih?” kata rajam, ”gini aja kita lihat posisi palutungan dimana!” kata otong, ”gimana kalau naik kepohon untuk melihat posisi palutungan dimana” kata ronjat kepada mereka. Dan otong pun lansung naik kesebuah pohon, otong terus mengamati dengan teliti karena palutungan tertutup oleh kabut. mereka pun terus berdoa kepada yang maha pencipta agar mereka bisa keluar dari salah satu ciptaannya, alhamdulillah kabut bergerak sedikit demi sedikit, dan palutungan mulai terlihat, setelah terlihat mereka pun langsung memilih jalur dan mulai melanjutkan perjalanan mereka, mereka berjalan dan akhirnya ketika terlihat ada pohon pisang, mereka pun senang bisa melihat pohon tersebut, karena artinya mereka sudah dekat dari Palutungan. Dan ketika sudah melewati ladang pisang tersebut akhirnya mereka keluar dari hutan gunung geger halang. Alhamdulillah kita bisa melihat jalur track motor atau jalur yang sering digunakan oleh penduduk menuju ladang. Dan ketika di ladang tersebut mereka istirahat sejenak sambil memeriksa bagian-bagian tubuhnya. mereka buka sepatu mereka karena pacet suka didaerah yang lembab, ketika di buka sepatu dan kaos kaki yang dipakai oleh mereka, ternyata banyak pacet di kaki mereka yang sedang menyedot darah kami.



ketika dalam keadaan survival atau tersesat jiwa kita harus tenang, dan jangan lupa kepada yang menciptakan kita, karena dengan tenang Insyaallah pikiran pun jernih dan kita bisa menggunakan akal dan fikiran kita”.




6. Pulang kerumah masing-masing


Sekitar jam 16.00, 25 November 2008

Sekitar jam 16.00 mereka pun langsung turun gunung menuju ke palutungan, perjalanan kali ini pun masih dirasakan ketegangan karena pada perjalanan ini mereka terkejut oleh suara gonggongan anjing hutan, ”duh, anjing euy, ” kata rajam. ”tuh ada tongkat, kita gunakan aja tongkat itu untuk bela diri apabla dikejar oleh anjing pitu” kata ronjat pada mereka. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka sambil membawa tongkat, ”au..au..au.au” suara anjing itu semakin jelas terdengar di telinga mereka, dan mereka juga mempercepat langkah mereka. Setelah berjalan sekitar 15 menit akhirnya mereka pun sampai di bumi perkemahan palutungan. ”Alhamdulillah bisa sampai di palutunga juga”kata ronjat dalam hati.

Ketika sudah sampai di palutungan mereka istirahat sejenak, dalam istirahat itu mereka pergunakan untuk masak, dan cuci muka, ”huh segar” ronjat berkata dalam hati. Dan yang bertugas masak kali ini adalah otong dan rajam. Sekitar 5 menit hidangan pun selesai, ya seperti biasa mie. He......he....

”Weui gimana ni kita pulang?” Kata ronjat pada mereka. ” jat minjem hp mu dong” kata otong kepada ronjat ” buat apa?” tanyaku pada otong, ”ku mau sms temenku suruh jemput kita di palutungan” jawab otong.

Ternyata temannya otong pada gak bisa jemput mereka, ya akhirnya mereka pun langsung pulang menuju kerumah temannya otong terlebih dulu untuk mengambil motor mereka yang kemarin mereka titipkan. Dalam perjalanan kerumah temannya otong mereka pun asyik berfoto-foto dulu. Sekitar setengah jam berjalan akhirnya mereka pun sampai di rumah temannya otong.

Sambil mengetuk pintu otong memanggil pemilk rumah” permisi”. Dan sekarang yang keluar adalah temannya otong. ”hei bagi minum doank, aus nih” kata otong kepada temannya. Dan mereka pun meminum minuman yang dihidangkan kepada mereka yaitu air yang sangat lezat, yaitu segelas AM ( Air Mineral ). Setelah minum mereka parkir motor mereka dan mereka langsung pamitan kepada pemilik rumah, ” makasih ya pak” kata mereka kepada ayahnya teman Otong. ” oh, sama-sama” jawab ia. Setelah parkir mereka pun langsung pulang menuju rumah mereka masing-masing. Dan Alhamdulillah mereka pulang kerumah mereka masing-masing dengan selamat.

TAMAT

cerita singkat

Kisah ini berawal dari sebuah keinginan harapan seorang generasi muda yang ingin menggapai cita-citanya dan juga memenuhi harapan orang tuanya, cita-cita nya adalah menjadi seorang ahli di bidang geologi. dia sangat ingin kuliah di daerah Bandung Jawa Barat, karena selain dekat dari kota asalnya. Disana juga ada sodaranya yang telah lebih dulu tinggal disana. Tapi kenyataan berkata lain, dia tidak di terima di Universitas Negeri yang ada di Bandung baik lewat SNMPTN atau UM,. Apa yang terjadi. Perasaan berkecamuk di tambah dia mendapat pesan dari kakanya yang dikirim oleh Ibunya pada kakanya. SMS tersebut berisi “na, si mamah sedih, cita-cita jeung kahayang si mamah anak-anak si mamah teh sukses. Terutama anak lalaki kudu leuwih luhur ti batan awewe, tapi kanyataanna kieu”… sehingga dia mendapat tugas membuktikan dia harus berhasil, dan juga harus belajar menjadi seorang lelaki yang dewasa.

SMS tersebut merupakan cambuk penyemangat, hingga akhirnya dia mendapat kabar dari seorang temanya bahwa di UNSOED masih di buka pendaftaran SPMB gelombang 2. karena disana ada program studi yang dia cita-citakan, ia pun mendaftar kesana.


1 agustus 2010.

Pada tanggal itu dia mengikuti tes yang diselenggarakan oleh panitia SPMB, dia mengerjakan sebisanya, dalam pikirnya, apakah aku akan berhasil?? Apakah aku akan di terima?? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu terngiang dalam pikirnya…


10 Agustus 2010 Hadiah di Awal Ramadhan

Pada tanggal itu pengumuman pun di kabarkan lewat media internet. Sebelum tanggal tersebut pada tanggal 9 dia mendapat telepon dari ibunya. Bahwa dia tidak masuk juga!!

Dia pun membuktikan dengan membuka WEB resmi pengumuman tersebut. Tapi apa haslinya?? Pengumuman belum keluar. Yang ada hanya pengumuman SPMB gelombang 1. diapun menjelaskan pada ibunya dan juga kaka-kakanya.. bahwa pengumumannya belum keluar. Hingga akhirnya 05.00 WIB 10 Agustus 2010. dia membuka web tersebut, dengan menggunakan HP yang setia menemani dari sejak kelas 3 SMP. Hasilnya. Pengumumannya pun telah terpampang dengan jelas di layer HP “pengumuman SPMB Gelombang 2” lalu dia download file tersebut kemudian dia kirim file tersebut ke komputer kakanya.. alhasil data di buka,, coba mencari nama dan juga no peserta..

Diapun melihat sebuah nama yang terpampang dengan jelas itu adalah namanya. Dia tak percaya dia di terima.. Mungkinkah, pertanyaan tersebut terlintas dalam pikirannya.. Hanya ada satu jawaban untuk menjawab pertanyaan tersebut.. Mungkin itu jodoh dan juga yang terbaik bagimu.. “Terima kasih ya Allah engkau memberika hadiah di awal Ramadhan, dan engkau juga telah memberikan senyuman kembali di wajah orang tua ku” dia berkata dalam hatinya.


Akhirnya dia sekarang menuntut ilmu demi menggapai cita-citanya. Di kampus UNSOED desa Blater kabupaten Purbalingga, Fakultas Sains dan Teknik. Jurusan Teknik, Prodi Geologi.

Semangat,.. berusahalah demi orang-orang yang kita cintai, belajarlah sungguh-sungguh demi menggapai cita-citamu” dia mendapat SMS tersebut dari seorang temannya dari kota asalnya,,






Selasa, 02 November 2010

menjadi diri sendiri ( diambil dari mutiara di sela air mata )

sebagai motivasi.
orang yang berusaha menjadi diri sendiri tidak menjadikan cinta sebagai berhala, dan rindu sebagai belenggu. namun dijadikannya cinta sebagai charger.


" Karena rindu, hidup jadi terpacu

Karena cinta, jiwa kan terarah

Tanpa rindu, kalbu kan membeku

Tanpa cinta, jiwa kan merana

Rindu bukan belenggu

Cinta bukanlah dosa

Namun sekedar jalan

Tuk menuju ridla-Nya

Janganlah rindu menjadi benalu

Janganlah cinta menjadi berhala

Nanti hidup kan pilu

Jiwa pun kan merana "

Seorang Wanita Sempurna Seperti Setangkai Mawar Berduri

catatan diambil dari my brother Mahabb Adib Abdillah


Sebuah risalah untuk kaum perempuan yang diberkahi Allah
Dari seorang senior kita yang telah lebih dulu meraih fitrah-Nya

selamat terinspirasi!


Seorang wanita sempurna seperti setangkai mawar berduri. Dan kesempurnaan mawar adalah pada durinya. Semua kisah, puisi,syair dari klasik hingga postmodern memberi tajuk ‘mawar berduri’ untuk gambaran kesempurnann bunga. Namun terkadang orang menganggap duri pada mawar mengganggu, merusak bahkan menghalangi keindahan kelopak mawar. Padahal justru dengan duri itulah setangkai mawar menjadi sempurna, terjaga, terlindungi, tak dipetik sembarang orang.

Mawar adalah wanita, sedangkan duri pada mawar adalah aturan yang melekat dari Allah bagi seorang wanita. Banyak orang mengatakan aturan yang Allah buat untuk wanita, mengekang, sulit jodoh hingga sulit mendapatkan pekerjaan. Padahal seperti duri pada mawar, justru aturan itu yang melindungi, menjaga dan membuat seorang wanita mulia. Seperti duri yang jadi penyempurna mawar. Maka aturan Tuhan yang menjadi penyempurna wanita. Dan jika mawar berduri adalah mawar yang sempurna,
catatan diambil dari my brother Mahabb Adib Abdillah


pastinya wanita dengan aturan yang melekat dari Tuhannya pula wanita yang sempurna.

Seorang wanita sempurna seperti mawar di tepi jurang. Bukan mawar di tengah taman. Jika mawar ada di tengah taman cenderung semua tangan bisa memetiknya, dari orang biasa hingga orang ‘kurang ajar’ yang nekat memetik walaupun ada tulisan “Dilarang memetik bunga”. Walau ada larangannya orang tetap berani memetik, toh di bawah tulisan larangan itu hanya tertulis ancaman “denda sekian puluh ribu atau kurungan sekian bulan”. Tapi jika ada di tepi jurang tentu tak semua tangan berani menyentuhnya.

Maka wanita, tumbuhlah di tepi jurang. Hingga tak sembarang tangan lelaki bisa mencolekmu. Hingga jika pun suatu saat ada seorang lelaki memetikmu, pastilah lelaki yang paling berani berkorban untukmu. Bukan sembarang tangan, bukan sembarang orang, bukan sembarang lelaki. Karena wanita bukanlah barang murah yang boleh disentuh seenaknya. Bukan barang hiasan yang bisa dipetik dengan ancaman kecil.



Barakalllah, perempuan yang dimuliakan Allah...

maaf

maaf jika rasa cintaku padaMu belum sempurna,
maaf jika terkadang ku telat menanggapi panggilan sayang Mu,
tapi ku kan berusaha memperbaikinya,
agar ku bisa mencintaiMu dngan sebenar2nya cinta,
selalu mengingatMu dikala bahagia dan musibah,
dan juga dapat menanggapi panggilan sayang dariMu..